Pak Hasan, seorang guru SD di Tasikmalaya, baru bisa berangkat umroh di usia 58 tahun setelah menabung selama hampir 10 tahun. "Setiap bulan saya sisihkan Rp 200-300 ribu. Kadang terasa berat, tapi niat sudah bulat," ceritanya.
Mimpi yang Tertunda
Sejak muda, Pak Hasan sudah bermimpi untuk mengunjungi Baitullah. Namun sebagai guru honorer dengan gaji pas-pasan dan 3 anak yang harus disekolahkan, umroh terasa seperti mimpi yang jauh. "Saya lihat teman-teman berangkat, hati ini iri. Tapi saya percaya, rezeki Allah tidak pernah tertukar."
Tabungan Kecil, Tekad Besar
Tahun 2016, Pak Hasan mulai serius menabung. Ia membuka rekening khusus "Tabungan Umroh" dan berjanji tidak akan mengambilnya untuk keperluan lain. "Ada kalanya tabungan itu 'menggoda' — waktu anak butuh uang sekolah, waktu atap rumah bocor. Tapi Alhamdulillah, selalu ada jalan lain."
Detik-Detik Pertama Melihat Ka'bah
"Saat pertama kali masuk Masjidil Haram dan melihat Ka'bah, air mata saya langsung mengalir. SubhanAllah, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Semua perjalanan panjang, semua pengorbanan, terbayar di detik itu. Saya berdoa untuk keluarga, untuk murid-murid saya, untuk semua orang yang sudah membantu."
Pesan untuk yang Masih Bermimpi
"Jangan pernah berhenti berniat dan berusaha. Mulai dari yang kecil. Rp 100 ribu per bulan juga tidak apa-apa. Yang penting konsisten dan niatnya karena Allah. InsyaAllah, Allah akan mudahkan jalannya."